Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2011

Poetry For My Honey



Senyummu adalah bahagiaku
Ceriamu adalah dambaku
Gelisahmu adalah kebimbanganku
Air matamu adalah kesedihanku

Kau pelipur lara dukaku
Kau pengiring suka citaku
Bersama kita dalam hari-hari keberkahan
Ikatan ini berawal dari hati atas nama cinta

Jalinan ini bermula dari rasa atas nama sayang
Pertautan ini berasal dari angan atas nama rindu
Sungguh ini adalah cinta, sayang, dan rindu..
Cinta, sayang, dan rindu atas nama pengabdian kepada Rabbul Izzati

Malam ini bintang bersinar cinta, bulan tersenyum sayang, angin mendesir rindu
Wahai bintang, bulan dan angin
Sampaikanlah salam cinta, sayang, dan rinduku kepadanya
Sungguh Aku Sangat mencintaimu karena Allah




Selasa, 19 April 2011

Belajarlah Kepada Sang Mentari



Lihatlah matahari itu

Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya

Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya
Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya
Ia tetap memberikan pencahayaan
Bayangkan, apa yang akan dialami bumi
Bila matahari tidak mau bercahaya

Janganlah kita putus asa
Karena Insya ALLAH esok pagi matahari itu akan terbit kembali... Songsonglah hari ini...
Kejarlah masa depan dengan semangat membara
Tanpa kenal lelah dan pudar
Karena dengannya kita akan menjadi mulia

Kita melihat matahari itu sangat tinggi
Tetapi ia masih mau membantu bumi
Karenanya, bila kita kelak sedang di atas
Janganlah lupa kepada yang di bawah
Sebab Manusia akan semakin tinggi ketika Ia mau merendah

Matahari itu tidak lupa diri
Sekalipun ia sibuk memberikan cahaya kepada semesta
Ia juga memberikan cahaya pada dirinya
Karenanya janganlah menjadi seperti lilin
Yang rela membakar dirinya untuk pencahayaan
Tetapi jadilah seperti matahari
Yang memberikan cahaya serta kehidupan bagi orang lain
Juga memberikan cahaya bagi dirinya sendiri.

Minggu, 10 April 2011

~ Poetry For Mujaaheedah ~

Iseng-iseng search di google dengan keyword #Puisi Perjuangan Mujahidah# ketemu salah satu blog yang berisi puisi bagus....silahkan dinikmati, bener-bener bikin ngiriiii.....serasa seperti debu


Buat manusia istimewa dalam hidup ini... dan juga isteri-isteri pejuang... serta bakal isteri seorang pejuang


Isteriku....
Apabila kusentuh telapak tanganmu...
Saat kuusap dan kurasakan guratannya,
Kudapatkan parutan kasar dan semakin kasar....
Dan ketika kupandangi wajahmu....
Terpancar sinar bahagia dan ketenangan walaupun kutahu...
Redup matamu menyimpan satu rintihan yang memberat....
Ketika kutersentak dari pembaringan di kala fajar kadzib menyingsing...
Aku terpana dengan munajatmu yang syahdu.


Isteriku...
Tatkala teman-temanmu tengah bersantai, happy fun....
Di keramaian dunia ciptaan mereka...
Engkau bahagia mengorbankan seluruh detik-detikmu....
Hanya untuk Islam dan keagungan muslimin...
Tatkala lengan-lengan mereka dibaluti...
Pelbagai hiasan yang indah...
Leher-leher mereka memberat dilingkari dengan kilauan emas berlian...
Pakaian-pakaian anggun bak puteri kayangan...
Wajah mereka dibaluri pelbagai warna dan jenama...
Kau umpama ladang ummah...
Kau menginfaqkan seluruh jiwa dan raga demi kebangkitan Islam...
Kau tak pernah bersungut-sungut, mengeluh, meminta-minta maupun
mengadu domba...
Tatkala mereka berlomba-lomba mengejar pangkat dan nama...
Kau sibuk menjulang nama dengan pengaduanmu di sisi yang Esa...


Isteriku....
Bukan aku tidak mampu membelikan benda dan hiasan-hiasan tersebut... Tetapi isteriku...
Aku masih ingat tatkala aku menyuntingmu untuk kujadikan isteri dan penghuni kamar hatiku....
Kau melafazkan satu tuntutan, "Saya siap mendampingi perjuangan ini bersama akhi tetapi dengan syarat..." Sambil tersenyum kau menghela nafas dalam-dalam....Aku termangu sendirian... Syarat apakah itu? Bungalow kah? Hamparan tanah berhektar-hektar kah? Mobil mewahkah? Intan berliankah? Pakaian sutera yang high class? Perabot mahal dari Itali kah?... Atau honeymoon di Paris ?..
Lama kau mengumpulkan kekuatan untuk sekedar berkata...

Akhirnya...
Arghhh... Permintaanmu itu...
Pasti ditertawakan oleh kerabat dan teman-teman kita...
Aku tergugu, haru dan bangga...
Dengan penuh keyakinan kau berkata..
"Akhi , Mampukah akhi menjadikan saya sebagai isteri yang
kedua ?....
Mampukah akhi menjadikan Islam sebagai isteri pertama yang lebih memerlukan perhatian?...
Mampukah akhi meletakkan kepentingan Islam melebihi segala-galanya termasuk urusan-urusan dunia?...
Mampukah akhi menjual diri semata-mata karena Islam?..
Mampukah akhi berkorban meninggalkan kelezatan dunia?...
Mampukah akhi menjadikan Islam laksana bara api....
Akhi perlu menggenggamnya agar bara itu terus menyala...


Mampukah akhi menjadi lilin yang rela membakar diri untuk Islam.. Bukannya seperti lampu pijar yang bisa di'on'kan bila perlu dan di'off'kan bila tidak....
Mampukah akhi mendengar hinaan yang bakal dilontarkan kepada anda karena perjuangan anda....
Dan...mampukah akhi menjadikan saya isteri seorang pejuang yang tidak dimanja dengan fatamorgana dunia?...


Aduh! Banyaknya syarat-syarat itu isteriku...
Namun aku menerima syarat-syarat tersebut karena aku tahu..
Jiwamu kosong dari syurga dunia...
Karena aku tahu kau mampu mengubah dunia ini dengan iman dan akhlakmu..
Bukannya kau yang diubah oleh dunia...


Isteriku..
Akhirnya jadilah engkau penolong setiaku sebagai nakhoda mengemudi bahtera kehidupan kita...
Susah senang kita tempuh bersama...
Aku terharu dengan segala kebaikanmu...
Kau jaga akhlakmu...
Kau pelihara maruahmu selaku muslimah...
Kau tak pernah mengeluh apabila sering ditinggalkan demi tugasku menegakkan Islam ke persada agung....
Kau jua sanggup mengekang mata menungguku sambil memberikan aku suatu senyuman terindah di ambang pintu tatkala aku pulang lewat malam.... Malah kau seringkali meniupkan semangat untuk aku terus tsabat di pentas perjuangan ini....
Kau tabur bunga-bunga jihad walaupun kita masih jauh dengan keharuman kemenangan...


Isteriku..
Tangkasnya engkau selaku isteri...
Biarpun kau jua sibuk bersama mengorbankan tenaga dalam perjuanganku ini..
Kau jaga relasi kita dengan indahnya...
Kau siraminya dengan wangian cinta dan kasih sayang....
Kau tak pernah menjadikan kesibukanmu itu untuk kau lari dari amanahmu meskipun jadualmu padat dengan agenda-agenda bersama masyarakat dan kaum sejenismu....
Cekalnya engkau mendidik anak-anak...
Kau kenalkan mereka dengan Allah, Rasul saw, para sahabat yang mulia serta para
pejuang Islam...
Kau titipkan semangat mereka sebagai generasi pelapis jundullah...
Kau asuh mereka hidup dengan Al Quran...
Malah kau temani mereka mengulangkaji pelajaran dikala menjelang imtihan...


Isteriku...
Barangkali inilah pelajaran dari ustadzah Zainab Al Ghazali...
Tangan yang mengayun buaian dapat mengguncang dunia...
Kau beri didikan dua generasi sekaligus, generasi kini dan generasi kan datang


Suaminmu dan anak-anakmu dengan MAHABBAH
Andai ibunda Khadijah Al Kubra masih ada..
Pasti beliau tersenyum bangga karena masih ada srikandi Islam...
SEPERTIMU....WAHAI ISTERIKU..

http://abuhilya.multiply.com/journal/item/26


Masih adakah wanita seperti ini, yang membuat bidadari-bidadari surga pun cemburu padanya ????




Sabtu, 09 April 2011

Menikmati Proses Kehidupan


Mencoba untuk menikmati proses dalam setiap episode kehidupan melalui ikhtiar semampuku. Berjuang untuk menghadapi setiap masalah yang kuhadapi. Melewati tiap episode yang penuh dengan misteri kehidupan. Dengan kemisterian inilah kugantungkan semua harapan kepada Sang Pemilik Bumi Cinta. Walaupun terkadang jiwa ini terasa penat dengan segala aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran. Semakin hari kurasakan aura blur dalam kehidupanku, ntah apakah itu?? Aku tak dapat merabanya. Sesuatu yang menganggu pikiranku, namun ku tak tahu apakah itu. Senyum hanya sebatas gerakan mulut, bukan pure sebagai ungkapan kegembiraan. Semua seakan-akan keterpaksaan. Apa yang kau pikirkan wahai ukhtii?? Entahlah ….Namun ku kan tetap menyambut sang mentari dengan penuh semangat. Ku tahu bahwa semua ini adalah sebagai bentuk tarbiyah dari sang pemilik bumi cinta. Bagaimana aku dapat belajar untuk bertanggungjawab, bijaksana, dewasa dan yang lebih penting adalah bagaimana belajar untuk sabar. Sabar dalam menghadapi ujian ini. Hanya bisa kuhibur diri ini dengan sholat, tilawah, dan doa yang kupanjatkan kepada sang pemilik bumi cinta.


Ya Rabb….
Kutengadahkan tangan kecil ini kepadaMu
Karena ku yakin Engkaulah tempat yang paling tepat untuk mencurahkan
Cukuplah Engkau yang tahu …
Cukuplah tetesan air mata yang jatuh ketika hambamu berdoa merupakan bukti kelemahan diri ini
Cukuplah ritual yang kulakukan sebagai upaya penghibur hati
Walaupun terkadang serasa menjadi pecundang dalam menjalani proses ini
Ya Rabb….
Tenangkanlah hati ini, siramilah dengan rasa cinta kepadaMu
Hingga dapat menikmati proses kehidupan yang penuh dengan mister
i



Proses ini akan mekar indah dan berakhir dimuara cinta penuh dermaga kesamaan rasa. Proses ini banyak memberi pemahaman tentang artinya keberadaan Mu “ALLAH”. Walaupun telah semaksimal mungkin untuk menikmati indahnya, entah kenapa tetap saja titik resah hadir karena takut pengharapan tidak seindah proses dijalani.


Ya Rab….
Segala bentuk pengharapan kepadaMu adalah sebagai bentuk ketergantunganku hanya kepadaMu wahai pemilik bumi cinta
Tetap mensyukuri dan menikmati irama proses yang ditetapkan
Teduhlah jiwa ku menjalani ini semua…”Allahuma Amin”







Jumat, 01 April 2011

Izinkan Aku Bercerita Tentangmu…!!!

Jangan pernah lelah wahai Mujahidku
Karena ku kan senantiasa dibelakangmu untuk mendukungmu
Jangan kau tengok ke belakang, lihatlah kedepan
Didepan ada musuhmu, musuh Tuhan kita
Jadikan mereka terhina dengan kekuatanmu
Janganlah ragu untuk melepaskan peluru dari selongsong senapanmu
Bidiklah tepat dijantungnya
Jadikan ia mati sia-sia, tak memberi kemenangan bagi sekutunya
Maju terus jangan pernah menyerah
Lepaskanlah duniamu
Karena sungguh dunia ini hina
Sesungguhnya disisi Tuhan kitalah sebenar-benarnya kebahagiaan
Ingatlah isteri-isteri akhiratmu menunggumu dengan penuh cinta
Mereka senantiasa mendendangkan syair kerinduan

Hanya untukmu, hanya untukmu


Disaat kau pulang dengan membawa kemenangan
Maka janganlah kau merasa puas hingga Allah memenangkan agama ini atau kau menemui syahid dimedan itu
Dua pilihan yang menguntungkan, bukan?
Siapakah yang tidak suka dengan perniagaan demikian?
Sungguh merugi bagi orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat
Bukankah kau tidak demikian?

Kau sering bercerita kepadaku tentang indahnya syurga
Dengan berbagai kenikmatan didalamnya
Dan akupun mendengarkan dengan seksama
Betapa indahnya jika kita termasuk penghuni didalamnya

Menuai keridhaan-Nya selamanya



Wahai Mujahidku…aku sering melihatmu bercucuran air mata
Dan seketika itu kau tersungkur bersujud
Memanjatkan sebuah do’a
Aku tak bisa mendengarnya karena suaramu tertahan oleh gejolak didadamu
Namun ku tau
Itu adalah gemuruh kerinduanmu padanNya
dan kau memohon untuk bisa membela saudara-saudaramu dari para Thagut kaum kuffar
mengembalikan izzah mereka


wahai Kekasihku…ku kan senantiasa berdoa untuk mu agar harapanmu terpenuhi
untuk bisa kembali ke medan pertempuran itu
sungguh aku ridha jika harus dua kali atau bahkan berulang kali ditinggal olehmu
meski kerinduanku belumlah pupus
meski sajadahku belumlah kering karena banyaknya air mata kerinduan mengharap hadirmu disisiku
meski hari-hariku kan kembali sepi oleh canda dan petuahmu


meski kau tak lagi mengimamiku shalat
meski kau tak akan menyakasikan kehadiran Mujahid kecilmu menghirup udara kehidupan
aku ridha, sungguh aku ridha
asalkan Rabb kita memperkenankan kita bersua dan berkumpul di JannahNya
untuk selamanya
Jika kita tak berjumpa kembali
Maka kan ku semai cintamu disyurga
Dalam istana takwa

senyumku mengembang jika ku membayangkannya (syurga)
namun ku tak bisa menyembunyikan rasa cemburuku pada bidadari bermata jeli
yang akan membagi kasihmu dengan ku
kecantikan mereka tiada tandingan
meski kau selalu menyanjungku tiap pagi dan malam hari
namun seperti yang kau tau aku adalah wanita pecemburu
jiaka rasa itu menyerang maka aku kan mengingat kata-katamu
“kecantikan bidadari memang tiada duanya namun wanita dunia lebih mulia dan tiada tandingannya karena mereka bersusah payah beribadah sewaktu didunia”
Dan seketika itu pula hatiku riang

Ahhh..kau selalu mengerti bagaimana caranya membuatku senang


Wahai pujaanku….tiada berita yang lebih kusukai selain berita tentang kesyahidanmu
Oleh karena itu janganlah berhenti untuk mengharap syahadah pada-Nya
Mudah-mudahan Allah melapangkan jalanmu menujuNya
Kau ingat bukan Rabb kita telah berfirman
“Barang siapa menolong agamanya maka dia akan menolongnya pula”

Yakinlah itu



Wahai kekasih hati….jangan pernah ragu untuk meninggalkanku kembali
Jangan fikirkan aku
Karena ku kan baik-baik saja
Ku kan setangguh isteri Handzalah
yang merelakan malam pengantinya untuk memenuhi seruan-Nya
Kan kutopang hidupku tanpamu
Karena kini ku telah terbiasa
Kau yang mengajarkannya padaku, bukan?
Bukankah kita telah berkomitmen dari awal perjumpaan
dan saat ijab Kabul diucapkan
untuk mendirikan bangunan kasih kita diatas jalanNya
hingga syahid menjemput?
Kita tau perjumpaan didunia adalah sementara
Karenanya kita memohon perjumpaan yang kekal
Hingga kau dan aku tak terpisahkan lagi oleh ruang dan waktu
Allaahumma Amiin

Salam rinduku untuk mu selalu

‘Aisyah-mu

www.arrahmah.com

Rabu, 23 Maret 2011

Ku Berdiri di Persimpangan


Di persimpangan ini kuberdiri

Berdiri cukup lama

Kutengok masa laluku

Cukup kusimpan dalam lubuk hatiku

Yang membuat diri ini cukup tak berarti


Di Persimpangan ini

Ku diam membisu

Kemanakah harus kulangkahkan

Haruskah segera kuputuskan


Kejar Harapan

Biarkanlah

Kuhidup dengan nafas baru

Yang menyimpan kedamaian dalam lubuk hatiku



Selasa, 15 Maret 2011

Jangan Bersedih

Ina …
Jangan bersedih
Hapus lah air matamu
Hadapi hidup ini dengan tabah
Serahkan semua urusan kepadaNya


Senyumlah ....
Mari kita mencari ridhoNya
Mari kita raih hidup bahagia dengan doa dan usaha
Mari kita berjuang dengan bekal iman di dada
Mari kita tantang matahari dengan tekad membaja
Mari kita hadapi hidup
Seperti semut hitam di malam gelap gulita
Mencari makan untuk anak-anaknya
Marilah .... saudariku
Hapuslah air matamu ....
Senyumlah .... !


Ina ….
Jangan bersedih
Hapuslah air matamu ....
Mari bersyukur kepadaNya
Karena kau dijauhi dari kejadian yang mereka alami
Mari kita bersujud atas karuniaNya
Rezeki yang berkah
Kematangan jiwa yang semakin mantap
Keteguhan iman yang semakin kuat
Sabar dan syukur yang mengikat


Ina …
Senyumlah ....
Di balik senyummu ada karuniaNya
Di balik senyummu ada bahagia
Di balik senyummu ada sedekah
Di balik senyummu ada keikhlasan
Di balik senyummu ada istana kerinduan
Ina ….
Apa yang ada padamu sekarang ini
Adalah karunia Allah
Yang tidak semua orang menerimanya
Yang tidak semua orang merasakannya
Yang tidak semua orang mendapatkannya
Yang tidak semua orang memilikinya
Yang tidak semua orang mampu menggapainya


Ina …
Jikapun ada kekurangan yang kau terima
Atau merasa ada yang belum tercapai
Atau merasa hidup begitu membosankan
Atau merasa orang lain lebih darimu dari harta, kedudukan atau pendidikan
Dan semua itu menjadi hatimu sedih


Coba lihat ....
Orang yang ada di bawahmu
Orang yang tidak berpendidikan
Orang yang mencari sesuap nasipun susah
Orang yang berumah beratap langit
Orang yang berjalan tanpa alas kaki
Orang yang kemana-mana hanya berjalan kaki
Dan banyak lagi orang yang dari berbagai segi
Sangat kekurangan ...!


Bukan untuk menangisinya
Bukan untuk menghinanya
Bukan untuk mentertawakannya
Tapi menjadi bahan pembelajaran
Untuk menatap hidup agar lebih baik dari kemarin
Untuk bersyukur kepadaNya bila memdapat karunia
Dan bersabar bila mendapat cobaan !


Ina …
Tersenyumlah ....




Senin, 29 November 2010

Ku Tahu .....


Kini ku tahu

Kusadar

Aku terbelenggu

Namun kutahu

Aku harus bangkit

Mengejar mimpiku

Tuk bangun peradaban

Tunggulah aku

Ku kan sampai

Di penantianmu …..

Ahad, 28 November 2010

Menjelang tenggelamnya Sang Mentari

Sabtu, 27 November 2010

Sebuah Kata



Ku ingin berlari

Berlari jauh ….

Ku sadar

Kata itu membuatku lemah

Tak berdaya

Sesak rasanya dada ini

Jika kata itu datang

Bak tamu tak diundang

Terkadang memang terasa indah

Namun ku tetap tak kuasa

Ku ingin memenjarakanmu

Tuk sementara waktu

Hingga tiba saatnya nanti

Pasti kan jauh lebih indah



Jum’at, 26 November 2010

Menjelang Dhuha di Kos Salma